Mari kita melanglang buana menembus cakrawala biru menyelam ke dasar samudra terbang melayang di angkasa seiring denyut jantung dan desah-desah aliran darah. Kita nikmati hidup penuh kesyukuran.Kita arungi hidup dengan menanam biji-biji kebajikan.Jangan bersedih apalagi melahirkan kata-kata seperti ini : Jangan kau jamah hati lara Usah kau cium derita kedua Biarkan aku mengembara Tanpa membawa kasihmu. SASTRA MENGANDUNG KEINDAHAN BUDAYA MERUPAKAN CERMIN LINGKUNGAN PERADABAN
Kamis, 10 September 2009
PERKAWINAN BANJAR
BASASULUH
Berasal dari kata suluh, merupakan proses pencarian informasi mengenai gadis yang diinginkan, hal ini dilakukan secara diam-diam oleh pihak pria. Pada masa lalu perkawinan lazim atas perjodohan atau pilihan orangtua, sehingga tradisi semacam ini merupakan keharusan. Biasanya dilanjutkan dengan “Batatakun” yaitu pencarian informasi secara terbuka melalui kedua pihak keluarga, dengan tujuan meyakinkan perihal asal-usul keluarga, kemampuan ekonomi, dan seterusnya.
BADATANG
Acara meminang secara resmi oleh keluarga calon mempelai wanita. Secara tradisi, dalam acara ini terjadi dialog dengan bahasa Banjar serta diisi dengan berbalas pantun antar dua keluarga. Apabila lamaran diterima, kemudian ditetapkan beberapa kesepakatan antara lain mengenai besarnya jujuean (mas kawin), hari mengantarkan mas kawin, serta menetapkan hari perkawinan.
MAANTAR JUJURAN ATAU MAANTAR PATALIAN
Sebagai pangikat atau bukti telah bertunangan, calon mempelai pria haus memberikan “jujuran/patalian” atau oleh-oleh kepada calon mempelai wanita. Benda-benda patalian diantaranya berupa seperangkat perlengkapan tata rias, wangi-wangian, perlengkapan kamar tidur, perhiasaan dan sejumlah uang.
Mataar Patalian ini dilakukan oleh rombongan yang terdiri dari ibu-ibu sebanyak sepuluh sampai dua puluh orang dan bisanya diterima dengan upacara sederhana. Kesempatan ini digunakan oleh keluarga untuk mengumumkan kepada para tamu tentang hubungan calon pengantin yang disebut balarangan atau bertunangan. Dalam acara tersebut kedua calon penganin harus dihadirkan.
BAPINGIT
Merupakan salah satu tahap yang harus dilewati oleh seorang gadis menjelang hari pernikahannya. Intinya, calon pengantin wanita “dikurung” selama seminggu dengan maksud untuk menghindarkan dari hal-hal yang tidak diinginkan. Sesuai perkembangan masa, acara bapingit kini dipersingkat antara dua sampai tiga hari saja. Pada masa bapingit calon mempelai wanita tidak diperkenankan dikunjungi oleh calon mempelai pria atau pemuda lainnya.
Selama masa bapingit calon pengantin wanita benar-benar harus mempersiapkan lahir dan batin untuk mengarungi mahligai rumah tangga. Kegiatan yang dilakukan dalam masa bapingit adalah :
a.Batamat Quran
Karena mayoritas suku Banjar beragama Islam, maka ketaatan calon mempelai wanita dalam menjalankan ibadahnya akan ‘diuji’ melalui prosesi Batamat Qur’an, yakni menamatkan pembacaan kitab suci Al Qur’an disaksikan oleh guru mengaji dan kaum kerabat.
b.Bakasai dan batimung
Inilah saat intensif melakukan perawatan dan membersihkan diri calon mempelai wanita agar terlihat cantik dan segar. Sesuai tradisi, ritual perawatan menggunakan ramuan khusus berupa ‘kasai’ yakni semacam cairan pembersih dari beras ketan yang telah digoreng kering secara berulang-ulang. Selain itu calon pengentin melakukan ritual mandi uap air wewangian, dalam istilah Banjar disebut Batimung, agar pada hari pernikahan tubuh menjadi bersih dan tidak banyak mengeluarkan keringat.
c. Bapacar atau bainai
Ritual menghias kuku dengan pacar atau inai yang ditumbuk halus, sehingga meninggalkan warna merah. Prosesi bainai semacam ini juga menjadi tradisi kalangan masyarakat Minang maupun Betawi.
BADUDUS
Merupakan prosesi mandi intuk mneyucikan diri calon pengantin. Menggunakan air dicampur bunga-bunga dan air jeruk, dilengkapi dengan mayang dan air kelapa gading. Prosesi badudus dilakukan selepas bapingit, dua atau tiga hari sebelum upacara perkawinan. Ritual tersebut bisa dijalankan serentak oleh kedua calon pengantin atau dirumahnya masing-masing. Untuk memandikan dipilih 5 atau 7 orang wanita tua dari keluarga terdekat.
Rangkaian prosesi ini diwarnai dengan detil perlengkapan dan dekorasi berwarna kuning. Antara lain pada ‘lalangitan’ berupa kain kuning yang direntangkan pada bagian atas lokasi berlangsungnya prosesi. Bagi masyarakat Banjar, warna kuning selain merupakan warna yang memiliki arti kebesaran dan keluhuran, juga dipercaya bisa menjadi ‘alat’ untuk melindungi dari pengaruh roh jahat. Dengan demikian, calon pengantin juga memakai sarung warna kuning saat melakukan ritual badudus untuk ‘melindungi’ dari hal-hal buruk yang tak diinginkan.
Acara adat badudus juga disertai oleh perlengkapan yang sarat akan makna. Antara lain tebu kuning melambangkan harapan agar kehidupan rumah tangga selalu manis dan teguh, daun beringin sebagai lambang pengayoman, daun kambat sebagai penolak bala, daun linjuang sebagai penolak setan, ketupat berbentuk burung agar calon pengantin bisa terbang tinggi mencapai harapan rumah tangga. Disertakan pula pagar mayang sebagai pembawa keberuntungan dan penangkal segala yang buruk. Acara badudus diakhiri dengan pembacaan doa selamat dan batamat Al Qur’an bagi calon mempelai wanita maupun pria.
AKAD NIKAH
dalam pengertian orang Banjar, terdapat perbedaan nikah dengan kawin. Nikah dilakukan didepan penghulu sesuai dengan aturan agama, sedangka kawin dilakukakan setelah nikah, sewaktu pengantin pria secara resmi diantar ramai-ramai menuju ke rumah pengantin wanita. Prosesi perkawinan adat Banjar secara garis besar meliputi tiga bagian, yakni Manurunkan pengantin laki-laki, Maarak pengantin laki-laki, dan Mempelai Batatai Bapalimbaian.
MANURUNKAN DAN MAARAK PENGANTIN LAKI-LAKI
Metupakan upacara di rumah pihak keluarga pengantin laki-laki untuk dipersiapkan dibawa kerumah mempelai wanita. Diawali dengan doa dan selamat kecil, kemudian mempelai pria turun keluar rumah sambil mengucap doa keselamatan diiringi Shalawat Nabi oleh para sesepuh serta taburan beras kuning sebagai penangkal bala dan bahaya. Meski acara tampak sederhana dan sangat mudah namun acara ini harus dilakukan, mengingat pada masa-masa lalu tak jarang menjelang keberangkatan mempelai pria mendadak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang berakibat gagalnya upacara pernikahan.
Doa dan harapan keselamatan telah ditadahkan oleh kedua tangan, kemudian rombongan pengantin menuju kediaman mempelai wanita. Beberapa puluh meter di depan rumah mempelai wanita, berbagai macam kesenian akan ditampilkan menyambut kehadiran rombongan pihak pengantin pria. Diantaranya, Sinoman Hadrah (seni tari masal sambil mempermainkan bendera-bendera diiringi pukulan rebana), Kuda Gepang(hampir sama dengan kuda lumping), juga musik Bamban (sejenis Tanjidor Betawi). Mempelai pria melewati barisan Sinoman Hadrah, dilindungi oleh Payung Ubur-Ubur yang akan terus berputar-putar melindungi pengantin sambil rombongan bergerak menuju rumah mempelai wanita.
PENGANTIN BATATAI
Kedatangan mempelai pria ke rumah mempelai wanita untuk “bertatai” atau duduk bersanding, adalah puncak dari setiap upacara perkawinan Banjar. Acara ini terdiri dari beberapa versiberdasarkan kebiasaan masing-masing sub-etnis.
c.1. Versi Banjar Kuala
Mempelai laki-laki memasuki rumah mempelai wanita dan langsung menuju kamar mempelai wanita untuk menjemputnya dan kembali menuju Balai Patataian yang biasanya terletak diruangan tengah untuk duduk bersanding(batatai). Prosesi yang harus dilakukan :
= Bahurup Palimbaian ; sewaktu masih dalam posisi berdiri kedua mempelai bertukat bunga tangan.
Maknanya : kedua mempelai optimis terhadap hari-hari mendatang yang akan mereka jalani dengan penuh keceriaan, bagai harumnya bunga tangan mereka.
= Bahurup Sasuap ; kedua mempelai duduk bersanding lalu saling menyuapkan sekapur sirih (terdiri dari sirih, pinang, kapur, gambir).
Maknanya : mereka sudah saling membulatkan tekad untuk menempuh pahit, getir, manis dan perihnya kehidupan dan mengatasinya dengan seia sekata.
= Bakakumur ; setelah mengunyah sekapur sirih, kedua mempelai berkumur dengan air putih, lalu air bekas kumur dibuang ke dalam tempolong.
Maknanya : segala hal yang kurang baik segera di buang, sehingga dalam memasuki perkawinan kedua mempelai dalam kondisi bersih dan ikhlas.
= Batimbai Lakatan ; mempelai wanita melemparkan segenggan nasi ketan ke pangkuan mempelai pria, lalu oleh mempelai pria dilemparkan kembali ke pangkuan mempelai wanita.
Maknanya : Agar tali perkawinan yang mereka bina sedemikian erat, dapat memberikan keturunan yang baik dan unggul. Sekanjutnya nasi ketan tadi dilemparkan ke hadirin untk diperebutkan oleh para remaja putrid. Dipercaya remaja yang mendapatkan nasi ketan tersebut akan cepat mendapat pasangan.
= Batapung atau batutungkal ; para tertua dari kedua keluarga memberikan sentuhan dengan memercikan ramuan (air bunga, minyak likat baboreh dan minyak wangi) pada ubun-ubun , bahu kiri dan kanan, dan pangkuan mempelai.
Maknanya : agar perjalanan perkawinan mempelai selalu mendapat dukungan , bimbingan dan berkah dari pihak keluarga serta pinisepuh.
c.2. Versi Banjar Pahuluan (1)
Mempelai pria memasuki rumah mempelai wanita disambut dengan Shalawat Nabi dan taburan beras kuning, mempelai wanita telah diambang pintu, kemudian mereka bersama-sama dibawa untuk duduk bersanding di atas Geta Kencana, sejenis tempat peraduan (tempat tidur). Prosesi selanjutnya hampir sama denga versi Banjar Kuala.
c.3. Versi Banjar Pahuluan (2)
Mempelai pria memasuki rumah mempelai wanita disambut dengan Shalawat Nabi dan taburan beras kuning. Di depan pintu telah menanti mempelai wanita, dan kemudian kedua mempelai dibawa menuju Balai Laki dengan berjalan kaki maupun dengan cara Usung Ginggong. Selama bersanding di Balai Laki, kedua mempelai menyaksikan atraksi kesenian, dan harus menerima godaan atau olok-olok dari undangan yang hadir dengan senyum. Setelah selesai pasangan dibawa kembali ke rumah mempelai wanita diiringi tetabuhan kesenian tradisional.
Source: Majalah Mahligai dan berbagai sumber
Senin, 26 Januari 2009
Cerita Bahasa Banjar
DASAR KADA MAU KALAH
Si Anang, urangnya pintar pandir, rancak mampakalah kawan. Nang rancak tapakalah adalah Si Udin dan Si Amat.
Suatu hari Si Udin dan Si Amat duduk di atas jambatan, kada lawas datang Si Anang.
“ Mahadangi siapa ikam ,dudukan di atas jambatan naini,” ujar Udin manager.
“ Mahadangi situ pang, “ ujar Amat.
“O, jadi mahadangi akulah. Handak kamanaan garang jadi mahadangi aku,” ujar Anang manyahuti.
“ Handak mam bawa-i ka pasar, “ sahut Udin.
“ Ka pasar mana ? “ takun Anang.
“ Ka pasar bawah banyu. Di bawah jambatan ni ada pasar.” Imbah basuara kaya itu, lalu ai Si Amat mamacul baju, mamacul salawar, tatinggal salawar dalam haja lagi. Buuuur ! inya batajun ka banyu mulai atas jambatan. Banyalam sing lawasan.Kamudian mancungul timbul, naik ka tabing mambawa hintalu dua bigi.Malihat Si Amat mambawa hintalu dari banyalam tadi, buuur Si Udin batajun jua. Kada lawas timbul, inya naik ka tabing mambawa pais dua buting sing ganalan.
Malihat bukti nyata naitu kada bapikir panjang lagi, buuuur Si Anang batajun, banyalam ka dalam banyu.Mambarabuak banyu. Lalu ai timbul Si Anang mahancap naik ka tabing. Muhanya baluka-luka, mumui darah.
“ Hapus tu, tahangkup tunggul tu di bawah banyu,” ujar Si Udin.
“ Itu tu balasannya talalu mampakalah kawan,” ujar Si Amat.
“ Aku kada tahangkup tunggul , aku dipukuli urang di pasar bawah banyu tu tadi. Aku dipadahakan urang maling nang mancuntan hintalu lawan pais. Ujar ku , aku kada maling. Nang maling tu kawanku Si Udin lawan Si Amat. Ujar urang di pasar bawah banyu naitu kiyaw kawan ikam naitu, suruh ka sini, akan kami pukuli sampai mati,kaina inya tabiasa bacuntan-cuntan ampun urang , lalu ai aku mahanap naik ka tabing,” ujar Si Anang.
“ Ah, dasar kada mau kalah,” ujar Si Udin dan Si Amat tapaimbai basuara.
MAULAH GUGUDUH BATILANJANG
Haji Ibus himung banar baisi manantu bibini nang bungas.Bujur haja urang kampung tapi manantu sidin naitu bisa banar bamasak-masak dan taat lawan mintuha.Apa nang disuruh digawinya.
Haji Ibus lawas dah handak mamakan guduh.Balalu ai sidin manukar pisang pinurun sanyak lima sikat, maka pisang nang ditukar naitu ganal-ganal. Pukuknya kalu disanga puas tu pang mamakannya. Ganal riga.
“ Luh ! Luh ! Aku handak banar mamakan guguduh ulahan ikam. Maulah guguduh batilanjang Luh-lah,” ujar Haji Ibus.
“ Inggih, Bah-ai ! ujar Aluh manyahuti.Bagagas Aluh ka dapur : nyalakan kompor, tanggar rinjing , tumpah minyak lamak ka rinjing, kupas pisang, ambil galapung, dsb. Rahatan asyik bagawi maulah guguduh, hamper kalumpanan awan pasan mintuha yaitu maulah guguduh batilanjang. Lalu ai Si Aluh mahancap mamacul baju, mamacul tapih,mamacul biha, mamacul cawat. Kalihatan awak samunyaan manampurak putih.
“ Sir,sir ! “ Tadangar bunyi pisang tanyalam ka dalam rinjing nang panas. Baunya mandangur masuk ka hidung Haji Ibus nang rahatan duduk di ruang tamu sambil mambaca surat kabar.
Karna kada tahan lagi ma-arit liur, lalu-ai sidin ka dapur handak mamakan guguduh nang panas ulahan minantu. Sasampai di dapur, takajut Haji ibus malihat lalakun manantu.” “Astaga, napa ikam hajat Luh jadi batilanjang, “ ujar Haji Ibus batakun.
“ Pian kalu Bah, nang manyuruh,” sahut Si Aluh.
“ Ikam salah paham Luh-ai, maksudku bukan ikam nang batilanjang, tapi guguduhnya,” ujar Haji Ibus kirip-kirip mata malihat awak manantu putih mulus.
“ Maksud Abah ? “ ujar Aluh kada mangarti.
“ Maulah guguduh batilanjang tu artinya maulah guguduh kada bagalapung, pisang wara nang disanga,” ujar Haji Ibus manjalasakan.
“ Uh…” lalu ai Si Aluh mahancap ma-ambil dan mamuruk cawat, baju,biha,dan tapih sahingga tatutup sudah barang-barang antiknya. Amun lambat manutup, kalu-kalu mintuhanya tahilap, maka tabaraurangan badudua-an haja di rumah.Nang lainnya tulakan ka pangantinan.
APAM KANDAL
Dua tahun nang lalu aku tulak ka Barabai bajalanan ka wadah kawan.Sabalum bulik aku singgah di urang bajual apam. Urang Banjar samunyaan tahu bahawa apam Barabai naitu tipis, manis, dan enak kalu dimakan. Karana rasa ingin tahu mangapa apam Barabai naitu dibuat/diulah tipis kada kaya apam daerah lain.Aku pun batakun lawan nang bajual apam naitu. Tabaraungan nang bajual apam naitu bibinian, lamak mungkal awal, bungas lagi putih awaknya.
“ Kanapa apam Barabai naini tipis ? “ ujarku batakun.
“ Amun handak apam kandal nang di rumah , “ ujar nang bajual manyahuti.
“ Apam di rumah siapa,” ujarku ma-anyaki
“ Nang di rumah situ pang,”
“ Kalu ai apa ampun situ,” ujarku balantih pandir. Tiwas dimulai pandir manyarimpit-nyarimpit. “ Apam nang di rumah tu rancak dah marasai.Handak marasai apam Barabai pulang,” ujarku manambahi pandir. Tabaraungan urang pina sunyi. Kami hanya badudua-an. Ai liih, napa tii bakalan tarjadi.
“ Maksud hampian ?” ujar nang bajual manakuni.
“Apam Barabai nang tipis haja,”sahutku.
“ Kada apam nang kandalkah, aku ni lawas dah balu,” ujar manyahuti.
Hi, angin sigar batiup. Ih, imanku diuji. Untung nang ditawari naini urang nang kada liur baungan. Jaka liur baungan kayapakah akhir caritanya.
“ Aku handak apam nang tipis haja gasan sangu bulik,” ujarku.
“ Ka mana pian bulik ?”
“ Ka Amuntai Luh-ai ?”
Lalu nang bajual apam naitu maunjuki aku apam tiga bungkus.Gratis.
“ Kaina amun ka Barabai singgah ka rumah,” ujarnya tanpa mambari alamat.
“ Insya Allah.” Sahutku lalu barangkat maninggalakan si penjual apam itu.
“ Kaya apa handak ba-ilang di alamat rumahnya haja kada tahu.”, ujarku manggarunum.
Sampai wayahini aku masih tangiang ucapan Si Panjual apam naitu. Apam nang kandal, apam nang di rumah.
Amntai, 25 Januari 2009.
Senin, 10 November 2008
CERPEN
LAMUNAN SENJA
Cerpen karya Fahrurraji Asmuni
Sebentar lagi waktu berbuka puasa tiba. Di masjid dan langgar telah berkumandang yaa azhiim,yaa azhiiim.Tetepi aku tetap duduk di beranda rumah.Pikiranku mengembara ke dunia masa lalu. Dunia penuh cita-cita dan cinta.sekaligus dunia yang membuatku menderita lahir batin.
Kutatap diriku yang renta. Kulit sudah banyak yang kendur.Gigi banyak yang sudah gugur. Uban di kepala sudah bertabur.Pikiran pun semakin ngawur. Usiaku sudah setengah abad Ya, ibarat daun sudah menguning. Mungkin besok atau lusa akan meninggalkan tangkai. Gugur ke bumi , bersimpuh di haribaan Ilahi.
Di usia senja itu hidupku sudah mapan. Rumah mewah bertingkat. Mobil merk corolla punya dua buah. Di samping berstatus pegawai negeri aku juga pengusaha. Tapi sayang , hidupku masih sendiri. Belum punya istri.
Pernah terlintas untuk berumah tangga , tetapi dengan siapa ? Adakah gadis atau janda yang sudi bersuami dengan si tua renta ini ? Seandainya ada belum tentu aku masih berselera. Jika tidak berumah tangga , kepada siapa kuwariskan kekayaanku ? Aku tidak punya saudara. Aku anak tunggal.
Sewaktu ayahku masih hidup , aku sering dipanggil ayahnya untuk membicarakan siapa calon istriku. Namun kujawab dengan ramah :
“ Belum ada yang cocok , ayah.”
“ Itu karena kau tidak mau melihat-lihat. Sudah menjadi kewajiban kita untuk menyebarkan keturunan dan mendidik anak agar menjadi abdi allah yang salih.”
“ Ya, ayah,” jawabku singkat.
“ Dalam Alquran Surat Annisa ada beberapa aturan tentang perkawinan. Yaitu perkawinan yang diridai Allah.”
“ Benar , ayah , tetapi Rusdi kan belum menemukan orangnya .”
“ Kalau ayah yang mencarikan ? “
“ Tentang orangnya biar Rusdi saja yang memilihnya.”
“ Baik, kau harus cari betul-betul , insya Allah akan dapat lebih baik dari Rini.”
“ Ah, ayah.”
“ Allah Maha Besar, nak . Allah Maha Mengetahui apa yang kau derita. Ayah menyerahkan semuanya kepadamu.”
Sejak itu ayah tak pernah lagi membicarakan soal jodohku. Seperti aku, ayah tambah tekun beramal ibadah kepada Allah - lebih-lebih di bulan Ramadan – hingga akhir hayat beliau.
Sebenarnya aku lelaki normal. Tidak ada kelainan baik fisik maupun mental.Aku sampai sekarang belum memiliki istri karena susahnya mencari istri yang kuidamkan..Istri idamanku adalah sederhana , kaya miskin tidak jadi persoalan bagiku asalkan dia rajin salat dan taat beribadah kepada Allah.
Karena ingin mewujudkan yang kuidamkan itu aku sering berganti pacar. Anehnya , aku hanya tertarik pada gadis bernama RINI. Bila aku menemukan gadis yang bernama Rini di mana saja tempat tinggalnya aku berusaha sekuat tenaga untuk menjadikan dia sebagai pacar. Apapun halangan dan rintangannya akan aku hadapi demi mendapatkan gadis bernama Rini. (Maaf, jangan tersinggung pembaca yang bernama Rini )
Rini Septiarini, demikian nama seorang gadis yang baru kukenal,dia satu kampus dengan aku tetapi lain kelas.Dia pertama kali kukenal ketika aku menghadiri pesta ulang tahun teman wanitaku , Nita , di Pasar lama.Secara kebetulan kami berdua diminta panitia ulang tahun untuk menyanyi bersama di depan hadirin.Tanpa malu atau sungkan dia maju nyanyi duet denganku.Dari sini lahirlah keakraban-keakraban yang berujung saling mencintai.
Rini yang kukenal ini ternyata adalah anak seorang pedagang besar (impor-ekspor barang luks) di Banjarmasin. Ibunya pedagang pakaian jadi (konfeksi) terbesar di Banjarmasin. Rumahnya saja mewah seperti istana. Namun keluarga Rini tidak sombong.Siapa saja yang berkunjung ke rumahnya disambut oleh orang tuanya dengan ramah (kalau kebetulan ada di rumah) Sayangnya , aku tak pernah melihat keluarga ini melaksanakan salat.
Kalau nanti aku jadi bagian dari keluarga Rini aku akan dihanyutkan oleh kesibukan duniawi yaitu sibuk mengurus barang-barang,pikirku.Sebelum terlampau jauh hubungan kami merasuk jiwa , aku putus dengan Rini.
Yang berikutnya aku mengenal gadis bernama Rini Marlini. Gadis ini kekenal ketika aku berkunjung ke rumah kakekku di Bandung. Kebetulan dia tetangga sebelah rumahku kakekku . Dia berkulit putih bersih , tinggi semampai , wajah ayu , rambut sebahu. Dia berstatus mahasiswa Tk II ITB dan belum punya pacar.
Sebagai orang baru di kota Bandung , kota sejuk , Rinilah yang setia menemaniku sebagai penunjuk jalan , kalau aku pergi jalan-jalan. Karena kebaikannya membuat aku betah tinggal di kota Bandung berbulan-bulan.Sayang , hubungan kami hanya seumur jagung. Aku harus meninggalkan kota Bandung , otomatis meninggalkan Rini , karena orang tuaku memberi kabar lewat telepon bahwa SK pengangkatanku menjadi PNS sudah ada di Kanwil. Ambil ,kata ayahku . Jadi , aku mesti pulang ke Kalimantan Selatan.
Sesampai di Banjarmasin , cepat-cepat aku ke kanwil Diknas (dulu P dan K) untuk mengambil SK Pengangkatan menjadi CPNS. Kubuka SK itu.Ternyata aku mendapat tugas mengajar di SMP Negeri 1 Amuntai. Aku gembira luar biasa karena aku bertugas di kampung halamanku. Aku bisa mengabdi pada masyarakatku.
Di Amuntai , aku berkenalan dengan seorang guru yang baru di angkat seperti aku , namanya Maulini Mayrini Marina Rini. Namanya unik seunik orangnya. Dia selalu memakai rok pendek sebatas paha. Seolah-olah ingin memamerkan bentuk kakinya yang indah dan mulus. Rambut dikepang dua mirip telinga kelinci. Sepatu hak tinggi. Kalau dia berjalan perlahan pas seperti itik jepun kepanasan.
Melihat cara dia berpakaian aku jadi risih. Kubelikan baju lengan panjang , sarung dan kerudung . Tetapi jangankan memakai melirikpun dia tidak terhadap pakaian ayng kebelikan itu.
“ Rini , kamu ini seorang guru , masa berpakaian minim begitu ,” kataku pada suatu hari.
“ Masalah berpakaian kamu tidak perlu ikut campur apalagi mengatur , “ jawabnya.”Ini urusan pribadiku,” tambahnya.
“ Payah ini orang.”
“ Kak Rudi yang payah , masa sibuk memperhatikan caraku berpakaian. Ini masalah selera . Tahu ! “
“ Begitu saja marah . Maaf ya sayang ? “
“ Kali kumaafkan , “ sahutnya “ Tetapi kalau mulut cerewetmu terulang lagi berkomentar tentang caraku berpakaian atau yang lainnya maka hubungan kita putus.”
“ Ah , galak amat .”
“ Memang sudah dari sananya begini.”
Dengan Rini yang satu ini juga hubungan kami tidak lama. Aku tidak tahan dengan sikapnya yang kasar.
Putus satu cari lagi. Seminggu kemudian aku mendapat pacar lagi . Namanya Rimbaud Reni Alyakini. Reni ini orangnya lembut , peramah dan manja. Dia menjadi guru di sebuah SD di Amuntai.
Di balik keramahannya ternyata tersembunyi watak suka memerintah. Ini terbukti bila aku berkunjung ke rumahnya. Ada-ada saja pekerjaan yang harus kuselesaikan untuk dia seperti membuat program semester , RPP , alat peraga terkadang aku disuruhnya memasak . Kalau aku tidak mau , dia mengatakanku bahwa aku tidak saying padanya “
Jadi , aku berkunjung ke rumahnya bukan untuk bersantai atau bermesraan dengan dia tetapi mengerjakan pekerjaannya.
Dengan Reni ini hubunganku akhirnya putus. Aku pikir waktu pacaran saja sudah dapat tugas banyak . Bagaimana jika berumah tangga atau aku jadi suaminya , barangkali aku hanya dijadikannya pembantunya. Ah, aku jadi ngeri.
Berdasarkan pengalaman-pengalaman di ataslah aku jadi takut berumah tangga . Aku takut dengan wanita . Aku tahu tidak semua wanita berwatak seperti bekas-bekas pacarku. Tetapi aku trauma dengan kejadian yang kualami. Oleh karena itu , aku lebih baik hidup sendiri daripada mengalami kekecewaan berkepanjangan.
Azan magrib menyadarkanku dari lamunan. Aku terlambat berbuka puasa. Ada rasa sepi menyelinap di relung hatiku. Namun kesepian itu segera kuusir dengan mengerjakan salat magrib.
Fahrurraji Asmuni , Guru SMAN 1 Amuntai
DATU BURUNG
Pada zaman dahulu di Amuntai ada seorang yang saktimandraguna yang bernama Sulaiman , beliau diberi gelar Datu Burung. Datu artinya tetua masyarakat yang mempunyai kesaktian tinggi.Burung sejenis unggas.Beliau diberi gelar Datu Burung karena beliau mampu duduk di atas daun pisang dan daun pisang itu tidak patah. Datu Burung sebenarnya bukan asli orang Amuntai, tetapi asli penduduk Martapura.
Pada abad ke-18 suami istri – utuh dan aluh – pergi Martapura untuk bertandang ke tempat keluarga dengan menggunakan perahu (jukung besar). Ketika mau pulang atau meninggalkan Martapura ternyata ada seorang bayi di dalam perahunya itu. Setelah diumumkan kepada penduduk Martapura bahwa yang memiliki anak yang ada di dalam perahunya mohon diambil.Mendengar pengumuman itu orang pun berduyun-duyun mendatangi perahu ma aluh. Ternyata tidak ada yang kenal dengan bayi itu. Karena itu, bayi itupun dibawa ke Amuntai.
Bayi itu ternyata bukan bayi biasa. Dia mempunyai keistimewaan.Antara lain , tidak mau menyusu, hanya mau minum air putih saja. Bila sampai waktu salat dia terbangun dari tidurnya, jika jaga, dia menangis. Bila tiba bulan puasa tidak mau minum pada siang hari selama bulan puasa itu.
Semakin lama semakin besar anak itu , semakin terlihat kesaktian dan kekuatannya :
Suatu hari sampai kabar ke telinga beliau bahwa Belanda mau menyerang kota Amuntai.Penyerangan Belanda dilakukan lewat Sungai Negara dengan menggunakan kapal laut.
“Datu ! Belanda mau menyerang kampung kita, mereka sedang dalam perjalanan menuju ke sini” kata salah seorang warga kampung melapor.
“Tenang, mereka takkan sampai ke sini” sahut Datu Sulaiman.
“Mereka sudah dekat Datu, mari kita siapkan segalanya” kata sang pelapor.
“Baik, panggil semua kawan-kawan, kumpulkan semua disini” kata Datu.
Setelah semua kawan-kawan pejuang berkumpul, beliau mengajak mereka ke tepi sungai Negara. Beliau mencari tali, lalu dibentangkan melintang ke seberang sungai.
“Untuk apa tali itu dibentangkan Datu?” Tanya salah seorang yang hadir.
“Untuk menghalangi kedatangan Belanda ke daerah kita ini” sahut beliau.
Benar saja, ketika Belanda mendekati kota Amuntai, mereka lihat sungai yang mereka arungi buntu akhirnya merekapun berbalik arah, tidak jadi menyerang kota Amuntai dan sekitarnya.
Apabila beliau ingin makan ikan, ikan yang sedang berkeliaran bebas di sungai beliau ambil begitu saja, tanpa menggunakan alat yang lazimnya dipakai orang. Bila beliau ingin mengurung (menangkap) ikan yang berkeliaran di sungai, beliau pancangkan empat buah bilah atau tongkat berbentuk segi empat, maka ikan yang berada diantara keempat bilah itu tidak bisa bebas atau terlepas.
Suatu hari beliau menanam pohon kutapi di depan rumah. Kepada keluarganya beliau mengatakan dan berpesan agar pohon kutapi ini dipelihara karena kalau kutapi ini pohonnya besar seperti pohon kapuk, berarti ajal beliau sudah tiba.
Ternyata benar, setelah pohon kutapi itu besar, beliau pun meninggal dunia.
Sebelum meninggal dunia beliau sempat berwasiat, yaitu agar dimakamkan di kampung Padang Basar, tetapi ketika beliau meninggal dunia, pemerintah setempat menguburkannya di Kampung Pakacangan.
Karena tidak sesuai dengan wasiat, maka pada malamnya salah seorang keluarganya bermimpi bahwa Datu Sulaiman kembali berkubur ke tempat yang telah diwasiatkan yaitu Kampung Padang Basar.
Mimpi tersebut pada siangnya diceritakan kepada keluarga lainnya, lalu mereka bongkar kubur di Kampung Pakacangan, aneh mayatnya benar-benar tidak ada di dalam kubur tersebut, dan mereka hanya menemukan buluh barencong. Sedangkan di Kampung Padang Basar muncul sebuah onggokan tanah, dan onggokan tanah itulah yang diyakini oleh masyarakat sekitar adalah sebagai kubur sang Datu dan kubur itulah yang sampai sekarang banyak diziarahi orang.