Senin, 10 November 2008

CERPEN

LAMUNAN SENJA

Cerpen karya Fahrurraji Asmuni

Sebentar lagi waktu berbuka puasa tiba. Di masjid dan langgar telah berkumandang yaa azhiim,yaa azhiiim.Tetepi aku tetap duduk di beranda rumah.Pikiranku mengembara ke dunia masa lalu. Dunia penuh cita-cita dan cinta.sekaligus dunia yang membuatku menderita lahir batin.

Kutatap diriku yang renta. Kulit sudah banyak yang kendur.Gigi banyak yang sudah gugur. Uban di kepala sudah bertabur.Pikiran pun semakin ngawur. Usiaku sudah setengah abad Ya, ibarat daun sudah menguning. Mungkin besok atau lusa akan meninggalkan tangkai. Gugur ke bumi , bersimpuh di haribaan Ilahi.

Di usia senja itu hidupku sudah mapan. Rumah mewah bertingkat. Mobil merk corolla punya dua buah. Di samping berstatus pegawai negeri aku juga pengusaha. Tapi sayang , hidupku masih sendiri. Belum punya istri.

Pernah terlintas untuk berumah tangga , tetapi dengan siapa ? Adakah gadis atau janda yang sudi bersuami dengan si tua renta ini ? Seandainya ada belum tentu aku masih berselera. Jika tidak berumah tangga , kepada siapa kuwariskan kekayaanku ? Aku tidak punya saudara. Aku anak tunggal.

Sewaktu ayahku masih hidup , aku sering dipanggil ayahnya untuk membicarakan siapa calon istriku. Namun kujawab dengan ramah :

“ Belum ada yang cocok , ayah.”

Itu karena kau tidak mau melihat-lihat. Sudah menjadi kewajiban kita untuk menyebarkan keturunan dan mendidik anak agar menjadi abdi allah yang salih.”

“ Ya, ayah,” jawabku singkat.

“ Dalam Alquran Surat Annisa ada beberapa aturan tentang perkawinan. Yaitu perkawinan yang diridai Allah.”

“ Benar , ayah , tetapi Rusdi kan belum menemukan orangnya .”

Kalau ayah yang mencarikan ? “

Tentang orangnya biar Rusdi saja yang memilihnya.”

Baik, kau harus cari betul-betul , insya Allah akan dapat lebih baik dari Rini.”

“ Ah, ayah.”

Allah Maha Besar, nak . Allah Maha Mengetahui apa yang kau derita. Ayah menyerahkan semuanya kepadamu.”

Sejak itu ayah tak pernah lagi membicarakan soal jodohku. Seperti aku, ayah tambah tekun beramal ibadah kepada Allah - lebih-lebih di bulan Ramadan – hingga akhir hayat beliau.

Sebenarnya aku lelaki normal. Tidak ada kelainan baik fisik maupun mental.Aku sampai sekarang belum memiliki istri karena susahnya mencari istri yang kuidamkan..Istri idamanku adalah sederhana , kaya miskin tidak jadi persoalan bagiku asalkan dia rajin salat dan taat beribadah kepada Allah.

Karena ingin mewujudkan yang kuidamkan itu aku sering berganti pacar. Anehnya , aku hanya tertarik pada gadis bernama RINI. Bila aku menemukan gadis yang bernama Rini di mana saja tempat tinggalnya aku berusaha sekuat tenaga untuk menjadikan dia sebagai pacar. Apapun halangan dan rintangannya akan aku hadapi demi mendapatkan gadis bernama Rini. (Maaf, jangan tersinggung pembaca yang bernama Rini )

Rini Septiarini, demikian nama seorang gadis yang baru kukenal,dia satu kampus dengan aku tetapi lain kelas.Dia pertama kali kukenal ketika aku menghadiri pesta ulang tahun teman wanitaku , Nita , di Pasar lama.Secara kebetulan kami berdua diminta panitia ulang tahun untuk menyanyi bersama di depan hadirin.Tanpa malu atau sungkan dia maju nyanyi duet denganku.Dari sini lahirlah keakraban-keakraban yang berujung saling mencintai.

Rini yang kukenal ini ternyata adalah anak seorang pedagang besar (impor-ekspor barang luks) di Banjarmasin. Ibunya pedagang pakaian jadi (konfeksi) terbesar di Banjarmasin. Rumahnya saja mewah seperti istana. Namun keluarga Rini tidak sombong.Siapa saja yang berkunjung ke rumahnya disambut oleh orang tuanya dengan ramah (kalau kebetulan ada di rumah) Sayangnya , aku tak pernah melihat keluarga ini melaksanakan salat.

Kalau nanti aku jadi bagian dari keluarga Rini aku akan dihanyutkan oleh kesibukan duniawi yaitu sibuk mengurus barang-barang,pikirku.Sebelum terlampau jauh hubungan kami merasuk jiwa , aku putus dengan Rini.

Yang berikutnya aku mengenal gadis bernama Rini Marlini. Gadis ini kekenal ketika aku berkunjung ke rumah kakekku di Bandung. Kebetulan dia tetangga sebelah rumahku kakekku . Dia berkulit putih bersih , tinggi semampai , wajah ayu , rambut sebahu. Dia berstatus mahasiswa Tk II ITB dan belum punya pacar.

Sebagai orang baru di kota Bandung , kota sejuk , Rinilah yang setia menemaniku sebagai penunjuk jalan , kalau aku pergi jalan-jalan. Karena kebaikannya membuat aku betah tinggal di kota Bandung berbulan-bulan.Sayang , hubungan kami hanya seumur jagung. Aku harus meninggalkan kota Bandung , otomatis meninggalkan Rini , karena orang tuaku memberi kabar lewat telepon bahwa SK pengangkatanku menjadi PNS sudah ada di Kanwil. Ambil ,kata ayahku . Jadi , aku mesti pulang ke Kalimantan Selatan.

Sesampai di Banjarmasin , cepat-cepat aku ke kanwil Diknas (dulu P dan K) untuk mengambil SK Pengangkatan menjadi CPNS. Kubuka SK itu.Ternyata aku mendapat tugas mengajar di SMP Negeri 1 Amuntai. Aku gembira luar biasa karena aku bertugas di kampung halamanku. Aku bisa mengabdi pada masyarakatku.

Di Amuntai , aku berkenalan dengan seorang guru yang baru di angkat seperti aku , namanya Maulini Mayrini Marina Rini. Namanya unik seunik orangnya. Dia selalu memakai rok pendek sebatas paha. Seolah-olah ingin memamerkan bentuk kakinya yang indah dan mulus. Rambut dikepang dua mirip telinga kelinci. Sepatu hak tinggi. Kalau dia berjalan perlahan pas seperti itik jepun kepanasan.

Melihat cara dia berpakaian aku jadi risih. Kubelikan baju lengan panjang , sarung dan kerudung . Tetapi jangankan memakai melirikpun dia tidak terhadap pakaian ayng kebelikan itu.

“ Rini , kamu ini seorang guru , masa berpakaian minim begitu ,” kataku pada suatu hari.

“ Masalah berpakaian kamu tidak perlu ikut campur apalagi mengatur , “ jawabnya.”Ini urusan pribadiku,” tambahnya.

“ Payah ini orang.”

“ Kak Rudi yang payah , masa sibuk memperhatikan caraku berpakaian. Ini masalah selera . Tahu ! “

“ Begitu saja marah . Maaf ya sayang ? “

“ Kali kumaafkan , “ sahutnya “ Tetapi kalau mulut cerewetmu terulang lagi berkomentar tentang caraku berpakaian atau yang lainnya maka hubungan kita putus.”

“ Ah , galak amat .”

“ Memang sudah dari sananya begini.”

Dengan Rini yang satu ini juga hubungan kami tidak lama. Aku tidak tahan dengan sikapnya yang kasar.

Putus satu cari lagi. Seminggu kemudian aku mendapat pacar lagi . Namanya Rimbaud Reni Alyakini. Reni ini orangnya lembut , peramah dan manja. Dia menjadi guru di sebuah SD di Amuntai.

Di balik keramahannya ternyata tersembunyi watak suka memerintah. Ini terbukti bila aku berkunjung ke rumahnya. Ada-ada saja pekerjaan yang harus kuselesaikan untuk dia seperti membuat program semester , RPP , alat peraga terkadang aku disuruhnya memasak . Kalau aku tidak mau , dia mengatakanku bahwa aku tidak saying padanya “

Jadi , aku berkunjung ke rumahnya bukan untuk bersantai atau bermesraan dengan dia tetapi mengerjakan pekerjaannya.

Dengan Reni ini hubunganku akhirnya putus. Aku pikir waktu pacaran saja sudah dapat tugas banyak . Bagaimana jika berumah tangga atau aku jadi suaminya , barangkali aku hanya dijadikannya pembantunya. Ah, aku jadi ngeri.

Berdasarkan pengalaman-pengalaman di ataslah aku jadi takut berumah tangga . Aku takut dengan wanita . Aku tahu tidak semua wanita berwatak seperti bekas-bekas pacarku. Tetapi aku trauma dengan kejadian yang kualami. Oleh karena itu , aku lebih baik hidup sendiri daripada mengalami kekecewaan berkepanjangan.

Azan magrib menyadarkanku dari lamunan. Aku terlambat berbuka puasa. Ada rasa sepi menyelinap di relung hatiku. Namun kesepian itu segera kuusir dengan mengerjakan salat magrib.

Fahrurraji Asmuni , Guru SMAN 1 Amuntai

DATU BURUNG

Pada zaman dahulu di Amuntai ada seorang yang saktimandraguna yang bernama Sulaiman , beliau diberi gelar Datu Burung. Datu artinya tetua masyarakat yang mempunyai kesaktian tinggi.Burung sejenis unggas.Beliau diberi gelar Datu Burung karena beliau mampu duduk di atas daun pisang dan daun pisang itu tidak patah. Datu Burung sebenarnya bukan asli orang Amuntai, tetapi asli penduduk Martapura.

Pada abad ke-18 suami istri – utuh dan aluh – pergi Martapura untuk bertandang ke tempat keluarga dengan menggunakan perahu (jukung besar). Ketika mau pulang atau meninggalkan Martapura ternyata ada seorang bayi di dalam perahunya itu. Setelah diumumkan kepada penduduk Martapura bahwa yang memiliki anak yang ada di dalam perahunya mohon diambil.Mendengar pengumuman itu orang pun berduyun-duyun mendatangi perahu ma aluh. Ternyata tidak ada yang kenal dengan bayi itu. Karena itu, bayi itupun dibawa ke Amuntai.

Bayi itu ternyata bukan bayi biasa. Dia mempunyai keistimewaan.Antara lain , tidak mau menyusu, hanya mau minum air putih saja. Bila sampai waktu salat dia terbangun dari tidurnya, jika jaga, dia menangis. Bila tiba bulan puasa tidak mau minum pada siang hari selama bulan puasa itu.

Semakin lama semakin besar anak itu , semakin terlihat kesaktian dan kekuatannya :

Suatu hari sampai kabar ke telinga beliau bahwa Belanda mau menyerang kota Amuntai.Penyerangan Belanda dilakukan lewat Sungai Negara dengan menggunakan kapal laut.

“Datu ! Belanda mau menyerang kampung kita, mereka sedang dalam perjalanan menuju ke sini” kata salah seorang warga kampung melapor.

“Tenang, mereka takkan sampai ke sini” sahut Datu Sulaiman.

“Mereka sudah dekat Datu, mari kita siapkan segalanya” kata sang pelapor.

“Baik, panggil semua kawan-kawan, kumpulkan semua disini” kata Datu.

Setelah semua kawan-kawan pejuang berkumpul, beliau mengajak mereka ke tepi sungai Negara. Beliau mencari tali, lalu dibentangkan melintang ke seberang sungai.

“Untuk apa tali itu dibentangkan Datu?” Tanya salah seorang yang hadir.

“Untuk menghalangi kedatangan Belanda ke daerah kita ini” sahut beliau.

Benar saja, ketika Belanda mendekati kota Amuntai, mereka lihat sungai yang mereka arungi buntu akhirnya merekapun berbalik arah, tidak jadi menyerang kota Amuntai dan sekitarnya.

Apabila beliau ingin makan ikan, ikan yang sedang berkeliaran bebas di sungai beliau ambil begitu saja, tanpa menggunakan alat yang lazimnya dipakai orang. Bila beliau ingin mengurung (menangkap) ikan yang berkeliaran di sungai, beliau pancangkan empat buah bilah atau tongkat berbentuk segi empat, maka ikan yang berada diantara keempat bilah itu tidak bisa bebas atau terlepas.

Suatu hari beliau menanam pohon kutapi di depan rumah. Kepada keluarganya beliau mengatakan dan berpesan agar pohon kutapi ini dipelihara karena kalau kutapi ini pohonnya besar seperti pohon kapuk, berarti ajal beliau sudah tiba.

Ternyata benar, setelah pohon kutapi itu besar, beliau pun meninggal dunia.

Sebelum meninggal dunia beliau sempat berwasiat, yaitu agar dimakamkan di kampung Padang Basar, tetapi ketika beliau meninggal dunia, pemerintah setempat menguburkannya di Kampung Pakacangan.

Karena tidak sesuai dengan wasiat, maka pada malamnya salah seorang keluarganya bermimpi bahwa Datu Sulaiman kembali berkubur ke tempat yang telah diwasiatkan yaitu Kampung Padang Basar.

Mimpi tersebut pada siangnya diceritakan kepada keluarga lainnya, lalu mereka bongkar kubur di Kampung Pakacangan, aneh mayatnya benar-benar tidak ada di dalam kubur tersebut, dan mereka hanya menemukan buluh barencong. Sedangkan di Kampung Padang Basar muncul sebuah onggokan tanah, dan onggokan tanah itulah yang diyakini oleh masyarakat sekitar adalah sebagai kubur sang Datu dan kubur itulah yang sampai sekarang banyak diziarahi orang.

3 komentar:

Anonim mengatakan...

Blognya bagus

sila mampir ke http://hatmiati.wordpress.com

zayed norwanto mengatakan...

Bapak memang jenius dalam membuat cerpen, banyak pelajaran yang bisa saya ambil lewat semua cerpen Bapak. terus berkarya Pa !!!
Saya juga nulis, namun kayaknya tulisan saya masih di bawah standar. mohon nasehatnya tentangkepenulisan. blog saya http://superzayedium.blogspot.com

Fahrurraji Asmuni/Raji Abkar mengatakan...

Makasih atas kunjungan dan komentarnya.
Buat Hatmiati aku sudah mampir ke tempatmu.
Khusus untuk Zayed.Jangan terlalu tinggi memujinya, nanti aku jatuh berdebam.
Salam untuk kedua komentator.